A Good Theolog(y)
Istilah teologi yang berarti kata (logos) tentang Allah (theos) menunjukkan bahwa siapapun yang berbicara tentang Allah sedang terlibat dalam berteologi. Kata siapapun di sini menunjukkan bahwa teologi tidak mengenal latar belakang akademis karena secara sadar ataupun tidak, setiap kita terus mencoba untuk mencari pemahaman tentang Allah dan eksistensi-Nya sepanjang kehidupan kita. Pencarian ini terjadi karena hasrat terdalam manusia adalah mengenal dan mengasihi Penciptanya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Agustinus dari Hippo dalam doanya :
Engkau mengerakkan hati kami untuk bersuka dalam puji-pujian kami kepada-Mu
dan hati kami gelisah senantiasa sampai kami menemukan ketenteraman di dalam Dikau.
Namun sejak awal, visi manusia untuk mengenal dan mengasihi Pencipta rusak karena dosa. Dosa mencoba untuk mengaburkan pandangan kita kepada Allah sehingga yang seringkali terjadi kita membuat ilah-ilah yang lahir dari Allah yang kita bangun menurut citra kita. Kita cenderung menjadikan Allah bukan sebagai subjek, tetapi malah sebagai objek dari pencarian dan pemikiran kita. Ini adalah sebuah teologi yang keliru. Untuk itu, kekristenan melihat proses berteologi sebagai suatu ibadah kepada Allah dimana Allah sendiri yang pertama-tama berinisiatif (berperan sebagai subjek) menyatakan diri-Nya kepada manusia dan kita dipanggil untuk meresponi-Nya dalam pengenalan dan penyembahan kepada-Nya.
Sebagai sebuah ibadah, teologi tidak menunutut kita mengerti segala sesuatu tentang Allah dengan sempurna – karena hanya Allah yang memiliki pengetahuan yang utuh tentang diri-Nya sendiri (pengetahuan archetypal) – tetapi meminta respons murni kita kepada Allah sejati yang menyatakan diri-Nya kepada kita. Dengan demikian, kita bisa mengenal Allah melalui cara penyataan diri-Nya yang dinyatakan dalam Alkitab dan dalam inkarnasi Sang Firman (pengetahuan ectypal). Pengetahuan ectypal ini bergantung pada karya Roh Kudus menyingkapkan Firman ke dalam pikiran dan hati kita sehinggga apa yang dibukakan oleh-Nya menjadi pemahaman dan perenungan bagi setiap kita.
Karena pengetahuan kita akan Allah harus bertumbuh sepanjang umur hidup kita, maka tepat jika gambaran yang dipakai dalam proses berteologi kita adalah ziarah dan kita sebagai peziarah. Kita yang berlaku sebagai peziarah akan terus memiliki pengetahuan akan Dia dan perenungan hidup bersama-Nya, tetapi tidak seperti yang kelak akan kita ketahui di dalam kemuliaan ketika dosa dan kefanaan tidak lagi mengaburkan pandangan kita. Di dalam kemuliaan terang sorgawi itulah, kita berhadapan muka dengan muka dengan Dia yang selama ini kita cari.
Dengan demikian tepatlah apa yang dikatakan oleh Thomas Aquinas: “Teologi diajarkan oleh Allah, mengajarkan tentang Allah dan memimpin kepada Allah” sedangkan bagian kita ialah datang dan merespon panggilan tersebut di dalam kehidupan kita. Untuk itu, hidup dan teologi adalah suatu kesatuan. Teologi yang benar tidak bisa tidak adalah teologi yang dihidupi lewat sikap penyembahan kepada-Nya dalam iman. Oleh karena itu, sebuah teologi dan seorang teolog yang baik senantiasa menghidupi beberapa hal penting ini :
1. Akal budi yang setia
Sebuah kekeliruan jika iman Kristen diartikan sebagai “iman” karena ia tidak dapat dimengerti sama sekali sehingga setiap orang Kristen cenderung untuk pasrah dengan keberadaan imannya dan tidak punya niatan lebih untuk memahami apa yang ia imani. Nyatanya, kehidupan beriman seorang Kristen adalah sebuah panggilan untuk memahami juga apa yang ia imani sebagaimana apa yang Yesus perintahkan dalam Matius 22:37 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Artinya, Yesus mengajak orang Kristen untuk melibatkan seluruh aspek kehidupan – termasuk pikiran – sebagai sebuah tindakan mengasihi Allah. Dari sini kita dapat melihat, pentingnya akal budi juga dipakai dalam kesetiaan melayani iman.
Akal budi yang setia bekerja melayani iman menghantar iman dalam mencari pengertian tentang Dia sekaligus menghantar iman untuk mengerti, bukan untuk merasionalkan Allah. Penempatan akal budi yang benar ini membuat kita pada akhirnya menyadari bahwa bukan kita yang menguasai sang objek (Allah) tetapi kita yang dikuasai olehnya. Allah dan penyataan-Nya berada di atas kita dan akhirnya, kitalah yang berada di bawah mikroskop, bukan Allah.
2. Kesatuan doa dan studi
Umpama kita yang sedang mencoba untuk mengerti dan memahami orang yang kita kasihi sebagai pribadi, kita harus menjalani proses itu dalam sebuah relasi. Tanpa masuk dalam sebuah relasi maka kita tidak sedang memperlakukan orang yang kita kasihi sebagai seorang pribadi. Maka seperti itulah proses berteologi. Ia harus dilakukan dalam sebuah relasi. Untuk itu, menjadi sebuah ironi jika seseorang yang punya pengetahuan akan Dia namun tidak pernah bersekutu dengan-Nya. Teologi yang baik justru seharusnya membuat seseorang semakin memiliki rasa haus dan lapar akan persekutuan dengan-Nya sehingga ia menghadirkan proses berteologinya sebagai sebuah dialog yang terus hidup dengan Allah lewat doa dan firman.
3. Kerendahan hati dan pertobatan
Sebuah keredahan hati juga perlu dimiliki dalam proses berteologi. Dalam kerendahan hati ini, kita menjalani proses berteologi kita dalam sebuah kesadaran akan kesenjangan yang ada antara Tuhan yang jauh lebih besar daripada kita sekaligus mengakui kefanaan kita yang mengingatkan tentang ketidaksempurnaan konstruksi teologis kita sehingga ketika kita diperhadapkan dengan pemahaman yang keliru akan Allah, kita dapat mereduksi konsep teologis berdasarkan pengenalan yang lebih dalam akan diri-Nya, bukan malah memaksakan gagasan kita sendiri seperti orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada zaman Yesus yang gagal melakukan bagian ini karena mereka cenderung merasa diri paling pintar, paling suci bahkan paling mengenal Allah sehingga mereka secara tidak langsung menolak Allah itu sendiri yang nyata dalam diri Yesus.
4. Belas kasih kepada yang terbelenggu
Semakin seseorang mengenal jauh lebih dalam sosok Allah, maka ia juga semakin “masuk” dalam keberadaan Allah yang penuh dengan welas asih. Maka dari itu, ada sebuah kekeliruan justru jika seseorang yang mengaku mengenal Allah yang adalah kasih, namun tidak turut dalam mengasihi orang yang Ia kasihi. Dalam surat Yohanes, orang yang seperti itu disebut pendusta. (1 Yoh. 4:20)
Untuk itu, kita perlu menyadari bahwa panggilan setiap kita yang diundang masuk oleh Allah untuk mengenal Dia adalah sebuah undangan juga untuk masuk dalam kasih-Nya sehingga sebagaimana Yesus telah menunjukkan cinta kasih-Nya lewat melepaskan mereka yang terbelenggu, maka seorang teolog juga dipanggil untuk menghadirkan belas kasih bagi mereka yang lemah dan papa serta menolong orang lain lepas dari “belenggu-belenggu” mereka.
5. Tradisi dan komunitas
Walaupun teologi adalah suatu hal yang dilakukan secara pribadi, namun teologi tidak bersifat private. Pemahaman teologis yang baik justru adalah pemahaman yang dibangun bersama dengan orang-orang percaya lainnya sebagai tubuh Kristus – baik di masa lalu maupun masa kini – yang menghantar kita pada pujian kepada Allah yang sejati. Lewat kesadaran akan komunitas yang di dalamnya Allah mengindetifikasikan diri-Nya inilah, kita diminta untuk mendengarkan serta belajar dari perenungan teologi mereka secara pribadi ataupun gereja secara komunal yang terekspresikan lewat tradisi-traidisi tertentu sebagai sesama peziarah di dalam terang kebenaran Firman Allah.
6. Cinta terhadap Alkitab
Dialog dengan Allah juga terjadi lewat perjumpaan dengan firman-Nya di dalam Alkitab karena melaluinya Allah yang hidup menyatakan diri-Nya kepada kita. Suatu sikap yang salah apabila Alkitab sekadar diperlakukan sebagai teks pendukung doktrin atau ilutrasi khotbah. Teolog yang setia menjadikan Alkitab sebagai sesuatu yang sentral sebab di dalamnya Allah dengan jelas menyatakan diri, di dalamnya kita mendengar para nabi dan rasul menyaksikan dengan setia tentang Yesus Kristus, Sang Firman yang berinkarnasi, serta melaluinya kita dipimpin untuk berjumpa dengan Sang Firman itu sendiri yang mengarahkan kita hidup bagi Allah dalam penyembahan yang benar kepada-Nya.
Dari sini kita dapat melihat bahwa sebuah proses berteologi bukan hanya melibatkan sebuah pemikiran akademis. Ia perlu dan sudah semestinya juga melibatkan keseluruhan hidup kita. Tanpa kehidupan yang juga dilibatkan di dalamnya, teologi menjadi sesuatu yang mati karena apa yang Ia kehendaki ketika Ia membuka diri-Nya kepada umat bukan supaya umat sekadar tahu tentang Dia, tetapi supaya umat semakin mengenal dan mengasihi Dia, dipuaskan oleh-Nya dan hidup bagi Dia.
Dan ‘ku ingin mengenal-Mu Tuhan
lebih dalam dari s’mua yang ‘ku kenal
lebih dalam dari s’mua yang ‘ku kenal
Tiada kasih yang melebihi-Mu,
‘ku ada untuk menjadi penyembah-Mu.
‘ku ada untuk menjadi penyembah-Mu.
Yogyakarta, 30 September 2017
*rangkuman buku “Pedoman Ringkas Berteologi” oleh Putra Arliandy dengan perubahan secukupnya
Good, di tunggu tulisan berikutnya...😀
BalasHapus