Penjara Bukan Penghalang
Kejadian 39:20 (TB) "Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana."
Setiap orang pasti tidak mau punya hidup yang terkukung dalam penjara. Sekalipun orang tersebut sudah berbuat kejahatan, ada berbagai cara yang ia lakukan agar tidak berada dalam jeruji besi. Jeruji besi seakan memutuskan harapan seseorang terhadap masa depannya, ia terisolasi ditambah lagi dengan pelabelan masyarakat yang pasti juga mencap jelek orang-orang yang berada di dalamnya. Situasi penjara adalah situasi yang dihindari (kecuali penjara koruptor di masa kini hehe). Jika orang jahat saja berusaha sebisa mungkin untuk melarikan diri dari penjara, apalagi orang yang tak bersalah? Sungguh malang nasibnya, tak berbuat apa-apa namun harus menghadapi situasi itu.
Namun, itu yang dialami Yusuf. Setelah ia dituduh meniduri isteri Potifar, Potifar dengan rasa geram dan kecewa menjebloskan Yusuf dalam penjara. Yusuf pun akhirnya menanggung resiko dari apa yang tidak diperbuatnya. Betapa malang nasib Yusuf, ia harus menghabiskan waktu hidupnya di balik jeruji besi. Ini seakan mematahkan harapannya terhadap mimpinya yang ada di Kejadian 37 bahwa ia akan menjadi seseorang yang "disembah" oleh saudara laki-lakinya, yang tergambar dalam penggambaran 11 ikat gandum dan 11 bintang pada kedua mimpinya. Tak mungkin ini tergenapi, Yusuf sudah terlanjur di cap jelek, mana ada lagi yang dapat mempercayai seseorang yang tidak tahu diri seperti Yusuf, seorang budak dari kepala pengawal raja Mesir yang dengan berani meniduri isterinya.
Keadaan yang menimpa Yusuf ini namun tidak membuatnya mempersalahkan Tuhan. Ia tak bertanya "mengapa harus saya seseorang yang tidak bersalah?" Ia justru tetap menunjukkan ia bukan seseorang yang bersalah lewat menunjukkan integritasnya di dalam penjara. Ia menjadi seseorang yang dipercayai dan disayangi oleh kepala penjara, tempat dimana seharusnya mimpi Yusuf menjadi pupus. (Ay. 21-23)
Bahkan, penjara pun tidak menjadi penghalang bagi mimpi Yusuf. Dalam segala kasih setia Allah, Allah membuka jalan sampai akhirnya ia menjadi seseorang yang diberi kuasa oleh Firaun untuk mengelola tanah Mesir karena dalam pimpinan Allah ia dapat menafsirkan mimpi Firaun (Kej. 41). Bahkan, jauh daripada itu, Allah sedang mempersiapkan pemeliharaanNya bagi keturunan Israel, bangsa kesayanganNya, di tengah kelaparan yang melanda seluruh Mesir melalui Yusuf (Kej 45:5). Allah telah mempersiapkan dengan cara dan waktuNya sendiri.
Terkadang, kita pun diperhadapkan dengan situasi seperti Yusuf. Berentetan situasi yang membuat kita terpuruk akhirnya menjadikan kita hilang harapan dengan segala mimpi-mimpi kita, apalagi jika situasi itu jauh bertolak-belakang dari apa yang kita harapkan. Sehingga tak jarang, dalam situasi seperti ini, banyak dari kita mulai mempersalahkan Tuhan, "mengapa harus saya?" Sikap kita yang perhitungan pun mulai keluar; "setiap hari saya saat teduh kok", "setiap hari saya pelayanan buat Tuhan." Kondisi itu seakan menggelapkan mata kita dan akhirnya membuat kita meragukan kuasa Allah.
Di tengah serentetan pengumuman SNMPTN dan SBMPTN yang membuat kita putus asa, di tengah pengumuman PPDB SMP/SMA yang membuat kita khawatir dengan jalan hidup kita ke depan, kisah Yusuf kali ini menunjukkan pada kita, kuasa Allah tak terhalang oleh tembok penjara. Di dalam apa yang Ia rencanakan bagi hidup kita, Ia punya berbagai cara untuk membuka pintu yang tertutup. Memang terkadang Allah proses kita terlebih dahulu menurut cara dan kehendakNya. Bahkan Ia juga tak jarang mengobrak-abrik hidup kita terlebih dahulu sebelum akhirnya Ia menyusun kembali dengan jauh lebih indah.
Tinggal bagaimana bagian kita untuk taat dan mempercayakan hidup dan harapan kita pada Allah, mempercayakan artinya juga menyerahkan hidupmu untuk di "stir" (diobok-obok) oleh Tuhan.
Hal ini pun aku rasakan ketika 2 tahun yang lalu. Memang dari SD, aku bercita-cita untuk masuk SMAN 2 Depok. Mungkin karena "cerita bagus" dari orang-orang saat itu ditambah lagi jaraknya yang dekat dari lingkungan rumah. Tetapi Ujian Nasional saat itu membuat aku sedikit pesimis, mapel Bahasa Indonesia yang sistemnya acak-acakan saat itu ditambah lagi keluarnya sekitar 2-3 soal "model internasional" di seluruh mapel yang ada membuat aku ragu bisa mencapai target nilaiku. Tiba saatnya pengumuman dan pendaftaran sekolah, nilai UN-ku menunjukkan hal yang aku khawatirkan, aku tidak dapat masuk sekolah yang aku harapkan dari kecil. Akhirnya, carilah sekolah lain. Karena aku pernah mengikuti lomba di SMAN 3 waktu aku masih SMP dan merasakan lingkungannya yang tidak "srek" di hati, maka SMAN 3 pun aku buang untuk aku pilih, aku lebih memilih SMAN 4 Depok, ditambah lagi di sekolah itu banyak yang aku kenal dari SMP almamaterku. Tetapi karena orang tua sedikit khawatir dengan jarak yang agak jauh, maka direkomendasikan SMAN 3 untuk kucoba terlebih dahulu. Dengan perasaan berharap terlempar dari sekolah itu, aku masukkan pilihan itu untuk sekedar "formalitas" bagi keluarga. Tetapi ternyata, sampai tiba waktunya tutup pendaftaran, aku tersangkut di bagian 5 terbawah di SMAN 3 Depok dengan terpaksa. Aku masuk kesana tanpa perasaan excited sama sekali. Aku saja bingung ketika pada masa pengenalan sekolah ditanya alasan masuk sekolah ini, tak peduli walaupun banyak teman hilang di tempat ini potensi untuk dapat PTN jalur undangan lebih banyak. Intinya aku masuk di tempat yang tidak aku "srek".
Tetapi, setelah melihat bagaimana Allah bekerja dalam hidupku, ternyata Allah menganugerahkan persekutuan yang begitu menguatkan di dalamnya. Aku menikmati pertumbuhan, lebih mengenal Allah lewat persekutuan tersebut.
Berbagai kisah yang aku ceritakan di atas semakin menyatakan kebenaran firman Tuhan pada Yesaya 55:9: "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." Ia menyusun hidup kita menurut rancanganNya. Ia membawa kita berjalan menggapai mimpi kita dalam jalanNya. Bukan rancangan dan jalan kita sendiri.
Jalan boleh tertutup bagi kita, tetapi terbuka luas bagi Allah. Ia hanya sedang memproses kita untuk mempercayakan hidup kita pada Ia yang merancangkan damai sejahtera bagi kita. (Yer. 29:11)
Bagian kita hanyalah taat dan percaya.
Sekalipun memang bukan itu jalan yang Allah kehendaki, Ia buka jalan lain untuk mimpi kita yang Allah persiapkan supaya hidup kita sesuai dengan panggilan dan tujuan Allah menempatkan kita.
Tembok sebesar apapun dapat Allah hancurkan apabila Ia berkenan menghancurkannya.
"God is too wise to be mistaken.
God is too good to be unkind.
So when you don't undertstand,
when you don't see His plan,
when you can't trace His hand,
Trust His heart"
Setiap orang pasti tidak mau punya hidup yang terkukung dalam penjara. Sekalipun orang tersebut sudah berbuat kejahatan, ada berbagai cara yang ia lakukan agar tidak berada dalam jeruji besi. Jeruji besi seakan memutuskan harapan seseorang terhadap masa depannya, ia terisolasi ditambah lagi dengan pelabelan masyarakat yang pasti juga mencap jelek orang-orang yang berada di dalamnya. Situasi penjara adalah situasi yang dihindari (kecuali penjara koruptor di masa kini hehe). Jika orang jahat saja berusaha sebisa mungkin untuk melarikan diri dari penjara, apalagi orang yang tak bersalah? Sungguh malang nasibnya, tak berbuat apa-apa namun harus menghadapi situasi itu.
Namun, itu yang dialami Yusuf. Setelah ia dituduh meniduri isteri Potifar, Potifar dengan rasa geram dan kecewa menjebloskan Yusuf dalam penjara. Yusuf pun akhirnya menanggung resiko dari apa yang tidak diperbuatnya. Betapa malang nasib Yusuf, ia harus menghabiskan waktu hidupnya di balik jeruji besi. Ini seakan mematahkan harapannya terhadap mimpinya yang ada di Kejadian 37 bahwa ia akan menjadi seseorang yang "disembah" oleh saudara laki-lakinya, yang tergambar dalam penggambaran 11 ikat gandum dan 11 bintang pada kedua mimpinya. Tak mungkin ini tergenapi, Yusuf sudah terlanjur di cap jelek, mana ada lagi yang dapat mempercayai seseorang yang tidak tahu diri seperti Yusuf, seorang budak dari kepala pengawal raja Mesir yang dengan berani meniduri isterinya.
Keadaan yang menimpa Yusuf ini namun tidak membuatnya mempersalahkan Tuhan. Ia tak bertanya "mengapa harus saya seseorang yang tidak bersalah?" Ia justru tetap menunjukkan ia bukan seseorang yang bersalah lewat menunjukkan integritasnya di dalam penjara. Ia menjadi seseorang yang dipercayai dan disayangi oleh kepala penjara, tempat dimana seharusnya mimpi Yusuf menjadi pupus. (Ay. 21-23)
Bahkan, penjara pun tidak menjadi penghalang bagi mimpi Yusuf. Dalam segala kasih setia Allah, Allah membuka jalan sampai akhirnya ia menjadi seseorang yang diberi kuasa oleh Firaun untuk mengelola tanah Mesir karena dalam pimpinan Allah ia dapat menafsirkan mimpi Firaun (Kej. 41). Bahkan, jauh daripada itu, Allah sedang mempersiapkan pemeliharaanNya bagi keturunan Israel, bangsa kesayanganNya, di tengah kelaparan yang melanda seluruh Mesir melalui Yusuf (Kej 45:5). Allah telah mempersiapkan dengan cara dan waktuNya sendiri.
Terkadang, kita pun diperhadapkan dengan situasi seperti Yusuf. Berentetan situasi yang membuat kita terpuruk akhirnya menjadikan kita hilang harapan dengan segala mimpi-mimpi kita, apalagi jika situasi itu jauh bertolak-belakang dari apa yang kita harapkan. Sehingga tak jarang, dalam situasi seperti ini, banyak dari kita mulai mempersalahkan Tuhan, "mengapa harus saya?" Sikap kita yang perhitungan pun mulai keluar; "setiap hari saya saat teduh kok", "setiap hari saya pelayanan buat Tuhan." Kondisi itu seakan menggelapkan mata kita dan akhirnya membuat kita meragukan kuasa Allah.
Di tengah serentetan pengumuman SNMPTN dan SBMPTN yang membuat kita putus asa, di tengah pengumuman PPDB SMP/SMA yang membuat kita khawatir dengan jalan hidup kita ke depan, kisah Yusuf kali ini menunjukkan pada kita, kuasa Allah tak terhalang oleh tembok penjara. Di dalam apa yang Ia rencanakan bagi hidup kita, Ia punya berbagai cara untuk membuka pintu yang tertutup. Memang terkadang Allah proses kita terlebih dahulu menurut cara dan kehendakNya. Bahkan Ia juga tak jarang mengobrak-abrik hidup kita terlebih dahulu sebelum akhirnya Ia menyusun kembali dengan jauh lebih indah.
Tinggal bagaimana bagian kita untuk taat dan mempercayakan hidup dan harapan kita pada Allah, mempercayakan artinya juga menyerahkan hidupmu untuk di "stir" (diobok-obok) oleh Tuhan.
Hal ini pun aku rasakan ketika 2 tahun yang lalu. Memang dari SD, aku bercita-cita untuk masuk SMAN 2 Depok. Mungkin karena "cerita bagus" dari orang-orang saat itu ditambah lagi jaraknya yang dekat dari lingkungan rumah. Tetapi Ujian Nasional saat itu membuat aku sedikit pesimis, mapel Bahasa Indonesia yang sistemnya acak-acakan saat itu ditambah lagi keluarnya sekitar 2-3 soal "model internasional" di seluruh mapel yang ada membuat aku ragu bisa mencapai target nilaiku. Tiba saatnya pengumuman dan pendaftaran sekolah, nilai UN-ku menunjukkan hal yang aku khawatirkan, aku tidak dapat masuk sekolah yang aku harapkan dari kecil. Akhirnya, carilah sekolah lain. Karena aku pernah mengikuti lomba di SMAN 3 waktu aku masih SMP dan merasakan lingkungannya yang tidak "srek" di hati, maka SMAN 3 pun aku buang untuk aku pilih, aku lebih memilih SMAN 4 Depok, ditambah lagi di sekolah itu banyak yang aku kenal dari SMP almamaterku. Tetapi karena orang tua sedikit khawatir dengan jarak yang agak jauh, maka direkomendasikan SMAN 3 untuk kucoba terlebih dahulu. Dengan perasaan berharap terlempar dari sekolah itu, aku masukkan pilihan itu untuk sekedar "formalitas" bagi keluarga. Tetapi ternyata, sampai tiba waktunya tutup pendaftaran, aku tersangkut di bagian 5 terbawah di SMAN 3 Depok dengan terpaksa. Aku masuk kesana tanpa perasaan excited sama sekali. Aku saja bingung ketika pada masa pengenalan sekolah ditanya alasan masuk sekolah ini, tak peduli walaupun banyak teman hilang di tempat ini potensi untuk dapat PTN jalur undangan lebih banyak. Intinya aku masuk di tempat yang tidak aku "srek".
Tetapi, setelah melihat bagaimana Allah bekerja dalam hidupku, ternyata Allah menganugerahkan persekutuan yang begitu menguatkan di dalamnya. Aku menikmati pertumbuhan, lebih mengenal Allah lewat persekutuan tersebut.
Berbagai kisah yang aku ceritakan di atas semakin menyatakan kebenaran firman Tuhan pada Yesaya 55:9: "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." Ia menyusun hidup kita menurut rancanganNya. Ia membawa kita berjalan menggapai mimpi kita dalam jalanNya. Bukan rancangan dan jalan kita sendiri.
Jalan boleh tertutup bagi kita, tetapi terbuka luas bagi Allah. Ia hanya sedang memproses kita untuk mempercayakan hidup kita pada Ia yang merancangkan damai sejahtera bagi kita. (Yer. 29:11)
Bagian kita hanyalah taat dan percaya.
Sekalipun memang bukan itu jalan yang Allah kehendaki, Ia buka jalan lain untuk mimpi kita yang Allah persiapkan supaya hidup kita sesuai dengan panggilan dan tujuan Allah menempatkan kita.
Tembok sebesar apapun dapat Allah hancurkan apabila Ia berkenan menghancurkannya.
"God is too wise to be mistaken.
God is too good to be unkind.
So when you don't undertstand,
when you don't see His plan,
when you can't trace His hand,
Trust His heart"
Nice! Thankyou arli.. semangat terus nulisnya
BalasHapusTerimakasih kaak.. Semoga menguatkan yaa!
Hapus