Komunitas = Anugerah Allah yang sering tak disadari

Komunitas?
Apakah perlunya komunitas untukku yang dapat jalani semua ini sendiri?
Komunitas?
Komunitas seperti apa? Tergantung. Jika itu menguntungkanku, it's ok.
Komunitas?
Dapatkah itu mengangkat derajatku di depan orang lain? Kalau bisa, kenapa tidak?

Banyak orang salah kaprah dengan arti komunitas sesungguhnya. Bahkan banyak dari mereka juga lebih memilih berada dalam komunitas yang dapat menjadi topeng bagi dirinya sehingga aku terlihat baik, aku terlihat tidak apa apa.
Tidak apa-apa jika harus ikut-ikutan dengan sesuatu yang berbau "dosa kecil", toh cuma kecil dan itulah syarat untuk mendapat pengakuan dari komunitasku.

Apakah itu pandanganmu juga terhadap komunitas?
Komunitas seperti apa yang sedang kau cari?

Jawabannya ada pada dirimu.
Tetapi izinkan aku untuk memperkenalkan komunitas menurut definisiku.

Masuk di sekolahku adalah hal yang begitu memaksaku beberapa tahun yang lalu. Di saat banyak orang masuk dengan muka cerah dan mungkin hati yang senang, aku biasa saja. Rasanya tak ada yang istimewa dengan sekolahku ini.
Ya, awalnya aku janjian untuk masuk sekolah ini bertiga dengan teman dekat SMP-ku. Tetapi ternyata tinggal aku sendiri.
Proses mencari komunitas pun dimulai.

Mulai masuk dalam kepanitiaan dan mendapatkan kebersamaan di dalamnya. "Apakah ini komunitasku?", pertanyaan itu terus berkecamuk dalam benakku. Tetapi ternyata kebersamaan itupun hilang tergerus waktu.

Mulai coba untuk ikut-ikutan bermain dengan teman-teman sekitar, aku sungguh menikmati. Siapa yang tidak menikmati? Menghabiskan waktu bersama teman-teman di masa SMA bukankah hal yang ditunggu-tunggu. Namun, tunggu dulu, mengapa mereka membiarkanku berkata kasar? Mengapa mereka membiarkanku masuk dalam dosa pornografi?
Mengapa mereka mencercaku saat aku punya kesibukan lain?
Apakah ini komunitasku?

Komunitas? Mungkin tidak untuk sekarang.

Namun, salah! Salah jika aku tidak punya komunitas!

Allah menempatkanku di sekolah ini ternyata salah satu karena sebuah komunitas. Komunitas dimana aku dibentuk dengan cara-cara yang menurut orang zaman sekarang "kolot". Kolot karena harus mendalami Alkitab, kolot karena harus berdoa, kolot karena harus ini dan tidak boleh itu.
Kolot? Kolot kata orang. Tetapi bagiku, dengan cara seperti itulah aku diubahkan.
Aku begitu menikmati Allah menolongku lewat komunitas. Lewat komunitas dimana aku masih tetap bercanda sepuas mungkin tetapi seakan punya lampu merah jika kelewatan. Lewat komunitas dimana aku dapat bertumbuh, bertumbuh bukan seperti apa yang dunia mau, tetapi seperti apa yang Pemilik hidup ini mau. Lewat komunitas dimana aku dapat dengan terbuka mensharingkan hidupku bahkan dosaku dan akhirnya komunitas itupun juga yang menguatkanku.
Awalnya risih, harus ditegur ketika berbuat salah. Awalnya sakit, harus ditegur ketika harus meninggalkan dosa.
Namun, satu hadiah paling indah yang telah komunitasku berikan untukku, doa.
Ya, tak ada hadiah paling indah selain doa yang menolongku juga ketika jatuh.

Tetapi, komunitas memang dianugerahkan karena sebuah tempat dan waktu.
Aku tak selamanya ada di komunitas ini karena waktu terus berjalan dan tak selamanya tempatku adalah tempat ini.
Namun, aku bersyukur pernah ada, pernah diproses dan pernah bertumbuh di komunitas ini.

Setelah ini, aku tak tahu teman-teman dalam komunitasku akan beranjak kemana. "Apakah mereka akan mendapat komunitas yang membangun juga nantinya atau malah sebaliknya?", pertanyaan itu selalu muncul ketika mengingat teman-temanku juga yang bertumbuh dalam komunitas ini.
Tapi, mungkin hanya doa yang dapat membantu jawaban dari pertanyaan itu.
Berharapnya mereka tidak kehilangan komunitasnya. Berharapnya mereka terus dihisap dalam sebuah komunitas. Komunitas yang membangun di dalam Kristus.
Tetapi, siapa yang tahu apakah ini akan jadi harapan yang menjadi kenyataan atau malah sekedar harapan?

Satu pesan yang hanya dapat kukumandangkan:
Nikmati keberadaan komunitasmu, sobat! Nikmati selama masih ada waktu.
Akan ada waktunya, kau tidak bersama dengan komunitasmu yang sekarang. Tetapi, tetap cari! Cari komunitas yang memaksamu untuk bertumbuh di tempat lain nantinya agar komunitas menolongmu di tengah komunitas lain yang begitu jahat merusakmu di generasi ini.

Aku bersyukur atas komunitasku yang Allah anugerahkan bagiku. Dan aku bersyukur atas kamu, yang bertumbuh di dalam komunitasku juga.

Amsal 27:17 (TB)
Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. 

Sahabat yang baik adalah sahabat yang bukan hanya menawarkan kenyamanan bagimu, tetapi sahabat yang baik adalah sahabat yang memaksamu untuk bertumbuh walaupun harus meninggalkan kenyamananmu.

- Putra Arliandy
05 November 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penjara Bukan Penghalang

Tempatkan Tuhan Dimana Saja