Haruskah Salib?
🎶 "Mengapa Yesus turun dari sorga,
masuk dunia g’lap penuh cela;
berdoa dan bergumul dalam taman,
cawan pahit pun dit’rimaNya?
Mengapa Yesus menderita, didera,
dan mahkota duri pun dipakaiNya?..." 🎶
Mengapa, mengapa, mengapa. Dunia ini tak pernah berhenti bertanya mengapa Yesus yang katanya adalah Allah Yang Mahakuasa harus turun ke dunia dan memilih salib. Jelas, karena hal ini adalah hal yang tidak masuk akal sehingga kata tanya "mengapa" jadi kata tanya yang paling tepat untuk mempertanyakan maksud dan tujuan salib itu sendiri.
Banyak manusia mempertanyakan : Bukankah kemahakuasaan Yesus sebagai Allah sudah cukup menunjukkan bahwa sebetulnya Ia tidak perlu mengambil cara salib hanya untuk menghapus dosa umat manusia? Tetapi, mengapa Yesus malah tidak memanfaatkan kemahakuasaanNya itu?
Apakah justru sebaliknya, salib membuktikan bahwa Yesus tidak cukup Mahakuasa karena tidak menyatakan pendamaian dengan cara yang jauh lebih mudah?
Jika benar demikian, maka tepatlah olokan prajurit Romawi 2000 tahun lalu diajukan juga oleh kita : "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" (Mat. 27:40). Karena, nyatanya Yesus memilih tidak menunjukkan "kemampuanNya" sebagai Allah saat Ia berada di atas kayu salib. Ia malah meneruskan hal konyol yang pernah Ia lakukan.
"Ini adalah kebodohan!", teriak dunia ini bagi salib Kristus dan kekristenan. Kekristenan dinilai sebagai suatu kelompok yang bodoh karena "menurunkan" derajat Allah yang transenden. Bahkan sampai saat ini, dunia terus menertawakan kekristenan karena terus mencari pengikut untuk sesosok Allah yang seakan-akan "membodohi" diri-Nya dan menghina diri-Nya sendiri karena mengambil salib yang adalah cara paling hina, paling keji, serta paling memalukan untuk sesosok Allah.
Namun, benarkah demikian? Apakah salib menandakan Yesus tidak cukup Mahakuasa untuk disebut Allah?
Nyatanya TIDAK! Kemahakuasaan Allah membuat Allah memilih cara di luar akal manusia agar kemahakuasaanNya semakin dinyatakan. Dengan cara di luar akal sehat ini, seharusnya manusia dapat melihat betapa terbatas dirinya dalam memahami karya Allah Yang Mahakuasa karena pikirannya yang terbatas tidak dapat memberi alasan yang logis tentang Allah yang tidak terbatas. Justru tanpa salib, Allah tidak menunjukkan ke-mahakuasaan-Nya karena Ia hanya memakai cara-cara biasa yang dapat digapai oleh penalaran manusia untuk menggenapi karyaNya.
Kemahakuasaan Yesus membuat diri-Nya harus memilih salib agar dalam kemahakuasaan-Nya itu juga Yesus dapat mengekspresikan kasihNya yang juga tidak terbatas kepada manusia, makhluk kepunyaan-Nya. Salib menyatakan betapa cinta matinya Allah terhadap manusia sehingga Ia rela melakukan cara apapun - tidak peduli, logis atau tidak logis caranya - untuk menyatakan bahwa "aku mengasihi-Mu" layaknya seseorang yang melakukan tindakan mati-matian kepada seseorang yang ia kasihi walaupun terlihat tidak logis di hadapan orang lain.
Tanpa Yesus yang adalah Allah itu sendiri, menunjukkan pengorbanan cintaNya, manusia yang bebal tidak dapat melihat bukti nyata dari cinta Allah.
Untuk itu: SALIB, CUKUP. Salib cukup menggambarkan betapa Ia mencintai aku dan kamu. Salib cukup menggambarkan kemahakuasaanNya akan segala hal, termasuk akan hidupku dan hidupmu.
Berhenti bertanya apakah Yesus bisa melakukan ini dan itu dalam hidupmu karena Yesus telah melakukan hal yang paling tidak logis bagi hidupmu.
Berhenti bertanya apakah Yesus mengasihimu karena Yesus telah rela dibodoh-bodohi oleh dunia karena cinta-Nya yang diekspresikan bagimu.
Berhenti bertanya apakah Yesus menerimamu karena Yesus telah melakukan hal yang gila agar kamu kembali kepada dekapanNya.
Itu semua dinyatakan dengan suatu cara yang tidak logis bagi dunia: SALIB.
1 Korintus 1:18 (TB)
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
🎶 "Mengapa Yesus mati bagi saya?
KasihNya, ya, kar'na kasihNya?" - NKB 85
Selamat menghayati kasihNya yang sedemikian rupa bagi setiap kita 💖
masuk dunia g’lap penuh cela;
berdoa dan bergumul dalam taman,
cawan pahit pun dit’rimaNya?
Mengapa Yesus menderita, didera,
dan mahkota duri pun dipakaiNya?..." 🎶
Mengapa, mengapa, mengapa. Dunia ini tak pernah berhenti bertanya mengapa Yesus yang katanya adalah Allah Yang Mahakuasa harus turun ke dunia dan memilih salib. Jelas, karena hal ini adalah hal yang tidak masuk akal sehingga kata tanya "mengapa" jadi kata tanya yang paling tepat untuk mempertanyakan maksud dan tujuan salib itu sendiri.
Banyak manusia mempertanyakan : Bukankah kemahakuasaan Yesus sebagai Allah sudah cukup menunjukkan bahwa sebetulnya Ia tidak perlu mengambil cara salib hanya untuk menghapus dosa umat manusia? Tetapi, mengapa Yesus malah tidak memanfaatkan kemahakuasaanNya itu?
Apakah justru sebaliknya, salib membuktikan bahwa Yesus tidak cukup Mahakuasa karena tidak menyatakan pendamaian dengan cara yang jauh lebih mudah?
Jika benar demikian, maka tepatlah olokan prajurit Romawi 2000 tahun lalu diajukan juga oleh kita : "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" (Mat. 27:40). Karena, nyatanya Yesus memilih tidak menunjukkan "kemampuanNya" sebagai Allah saat Ia berada di atas kayu salib. Ia malah meneruskan hal konyol yang pernah Ia lakukan.
"Ini adalah kebodohan!", teriak dunia ini bagi salib Kristus dan kekristenan. Kekristenan dinilai sebagai suatu kelompok yang bodoh karena "menurunkan" derajat Allah yang transenden. Bahkan sampai saat ini, dunia terus menertawakan kekristenan karena terus mencari pengikut untuk sesosok Allah yang seakan-akan "membodohi" diri-Nya dan menghina diri-Nya sendiri karena mengambil salib yang adalah cara paling hina, paling keji, serta paling memalukan untuk sesosok Allah.
Namun, benarkah demikian? Apakah salib menandakan Yesus tidak cukup Mahakuasa untuk disebut Allah?
Nyatanya TIDAK! Kemahakuasaan Allah membuat Allah memilih cara di luar akal manusia agar kemahakuasaanNya semakin dinyatakan. Dengan cara di luar akal sehat ini, seharusnya manusia dapat melihat betapa terbatas dirinya dalam memahami karya Allah Yang Mahakuasa karena pikirannya yang terbatas tidak dapat memberi alasan yang logis tentang Allah yang tidak terbatas. Justru tanpa salib, Allah tidak menunjukkan ke-mahakuasaan-Nya karena Ia hanya memakai cara-cara biasa yang dapat digapai oleh penalaran manusia untuk menggenapi karyaNya.
Kemahakuasaan Yesus membuat diri-Nya harus memilih salib agar dalam kemahakuasaan-Nya itu juga Yesus dapat mengekspresikan kasihNya yang juga tidak terbatas kepada manusia, makhluk kepunyaan-Nya. Salib menyatakan betapa cinta matinya Allah terhadap manusia sehingga Ia rela melakukan cara apapun - tidak peduli, logis atau tidak logis caranya - untuk menyatakan bahwa "aku mengasihi-Mu" layaknya seseorang yang melakukan tindakan mati-matian kepada seseorang yang ia kasihi walaupun terlihat tidak logis di hadapan orang lain.
Tanpa Yesus yang adalah Allah itu sendiri, menunjukkan pengorbanan cintaNya, manusia yang bebal tidak dapat melihat bukti nyata dari cinta Allah.
Untuk itu: SALIB, CUKUP. Salib cukup menggambarkan betapa Ia mencintai aku dan kamu. Salib cukup menggambarkan kemahakuasaanNya akan segala hal, termasuk akan hidupku dan hidupmu.
Berhenti bertanya apakah Yesus bisa melakukan ini dan itu dalam hidupmu karena Yesus telah melakukan hal yang paling tidak logis bagi hidupmu.
Berhenti bertanya apakah Yesus mengasihimu karena Yesus telah rela dibodoh-bodohi oleh dunia karena cinta-Nya yang diekspresikan bagimu.
Berhenti bertanya apakah Yesus menerimamu karena Yesus telah melakukan hal yang gila agar kamu kembali kepada dekapanNya.
Itu semua dinyatakan dengan suatu cara yang tidak logis bagi dunia: SALIB.
1 Korintus 1:18 (TB)
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
🎶 "Mengapa Yesus mati bagi saya?
KasihNya, ya, kar'na kasihNya?" - NKB 85
Selamat menghayati kasihNya yang sedemikian rupa bagi setiap kita 💖
Komentar
Posting Komentar