KEMBALILAH PADA KASIHMU YANG SEMULA!
Wahyu 2:4-5 (TB)
4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
Masih ingatkah kamu ketika pertama kali mendengar bahwa Yesus mengasihimu?
Mungkin di gereja, mungkin di Rohkris saat PIPA ataupun KKR, mungkin juga pada momen tertentu?
Bagaimana perasaanmu?
Adakah sukacita? Adakah kamu merasa sangat dikasihi karena menerima kasih Yesus yang sesungguhnya tidak pantas kamu dapatkan?
🎶 Adalah sukacita di hatiku, di hatiku, di hatiku.
Aku bersyukur, bersukacita kasih Tuhan tinggal di dalamku 🎶
Mungkin lagu di atas dapat menggambarkan betapa sukacitanya kita sehingga sukacita tersebut menghantar kita untuk tidak ragu mengatakan "oke, aku mau mengasihimu Tuhan lebih lagi", "oke Tuhan, aku mau komitmen untuk lakukan ini dan itu".
Tetapi... Apakah komitmen itu masih sampai sekarang? Masihkah kasih Kristus kita nikmati sampai saat ini?
Ketika diperhadapkan dengan dunia di luar sana, tantangan menyurutkan komitmen itu.
Ketika diperhadapkan oleh zona nyaman, rasa jatuh cinta kita kepada Kristus mulai menghilang.
Ketika diperhadapkan oleh pergumulan, kompromi dimulai.
Ketika diperhadapkan dengan pergaulan, "hehe ntar dulu deh Tuhan, ini soal aku dan teman-temanku nih"
Ketika diperhadapkan dengan kondisi yang bertolak-belakang, "hehe iya Tuhan, itu komitmen yang kemarin, sekarang ternyata engga"
Dalam penglihatan Yohanes yang ia tuliskan dI kitab Wahyu, Allah menegur jemaat Efesus karena kehilangan kasih mula-mula mereka pada Kristus.
Jemaat Efesus padahal adalah jemaat yang punya kehidupan pelayanan luar biasa, dari sana hadir Paulus, hadir Apolos sebagai orang-orang ternama.
Tetapi Allah yang melihat sampai kedalaman hati, melihat jemaat Efesus tidak lagi mengerjakan ketaatannya dengan cinta mula-mula yang dimilikinya.
Untuk itu, Allah kembali serukan suara pertobatan bagi mereka.
Adakah kita seperti jemaat Efesus saat ini?
Lupa rasanya jatuh cinta pada Yesus karena lupa akan cintaNya bagi kita.
Komitmen, janji, kerinduan, lupakan! Aku sedang senang dengan duniaku saat ini!
Apakah ini yang sedang kita rasakan?
🎶 Saat ku renungkan hidup bersamaMu,
Seringkali ku melupakanMu.
Ku berjalan sendiri seakan ku mampu lalui tanpa kekuatanMu.
Semakin berat beban hidupku,
Semakin ku menjauh darimu 🎶
Adakah lagu ini sedang menggambarkan situasi kita? Situasi kita yang seringkali menolak cinta Allah sehingga melupakan Allah, memilih untuk berjalan dengan kekuatan sendiri dan semakin menjauhkan diri dari Dia?
Meskipun seperti itu keadaan kita sekarang, lanjutan dari lagu tersebut sangat menggambarkan siapa Allah yang adalah Cinta itu sendiri:
🎶 Namun ada cinta yang tak pernah berlalu, cinta yang ku dapat dariMu.
T'lah teruji lalui rentangan sang waktu, Kau mati bagiku, berkorban untuk diriku 🎶
Allah tetaplah Pribadi yang mencintai kita sehingga dalam cintaNya Ia memanggil kita untuk berbalik agar kembali menikmati cintaNya Allah dan kembali punya cinta mula-mula itu.
Pandang pada salibNya, salibNya memanggil kita kembali.
Memanggil kita kembali menenggelamkan cinta kita pada cintaNya.
Memanggil kita kembali menikmati relasi denganNya.
Memanggil kita kembali menikmati karyaNya.
Memanggil kita kembali menikmati pimpinanNya.
Memanggil kita kembali untuk mengandalkan Dia.
Persoalannya, adakah kita mendengarkan salib Yesus yang memanggil itu? Adakah hal yang menghalangi salib itu dalam hatimu saat ini?
🎶 Bila kau pernah cinta Yesus, m'ngapa tak cinta Dia s'karang?
Meski kau t'lah menjauhkan Dia, kasih-Nya tak b'rubah.
O, dengarlah panggilan-Nya, harap kau lekas pulang,
bila kau pernah cinta Yesus, haruslah lebih cinta. 🎶
- KPPK 340
Putra Arliandy
29 Januari 2017
4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
Masih ingatkah kamu ketika pertama kali mendengar bahwa Yesus mengasihimu?
Mungkin di gereja, mungkin di Rohkris saat PIPA ataupun KKR, mungkin juga pada momen tertentu?
Bagaimana perasaanmu?
Adakah sukacita? Adakah kamu merasa sangat dikasihi karena menerima kasih Yesus yang sesungguhnya tidak pantas kamu dapatkan?
🎶 Adalah sukacita di hatiku, di hatiku, di hatiku.
Aku bersyukur, bersukacita kasih Tuhan tinggal di dalamku 🎶
Mungkin lagu di atas dapat menggambarkan betapa sukacitanya kita sehingga sukacita tersebut menghantar kita untuk tidak ragu mengatakan "oke, aku mau mengasihimu Tuhan lebih lagi", "oke Tuhan, aku mau komitmen untuk lakukan ini dan itu".
Tetapi... Apakah komitmen itu masih sampai sekarang? Masihkah kasih Kristus kita nikmati sampai saat ini?
Ketika diperhadapkan dengan dunia di luar sana, tantangan menyurutkan komitmen itu.
Ketika diperhadapkan oleh zona nyaman, rasa jatuh cinta kita kepada Kristus mulai menghilang.
Ketika diperhadapkan oleh pergumulan, kompromi dimulai.
Ketika diperhadapkan dengan pergaulan, "hehe ntar dulu deh Tuhan, ini soal aku dan teman-temanku nih"
Ketika diperhadapkan dengan kondisi yang bertolak-belakang, "hehe iya Tuhan, itu komitmen yang kemarin, sekarang ternyata engga"
Dalam penglihatan Yohanes yang ia tuliskan dI kitab Wahyu, Allah menegur jemaat Efesus karena kehilangan kasih mula-mula mereka pada Kristus.
Jemaat Efesus padahal adalah jemaat yang punya kehidupan pelayanan luar biasa, dari sana hadir Paulus, hadir Apolos sebagai orang-orang ternama.
Tetapi Allah yang melihat sampai kedalaman hati, melihat jemaat Efesus tidak lagi mengerjakan ketaatannya dengan cinta mula-mula yang dimilikinya.
Untuk itu, Allah kembali serukan suara pertobatan bagi mereka.
Adakah kita seperti jemaat Efesus saat ini?
Lupa rasanya jatuh cinta pada Yesus karena lupa akan cintaNya bagi kita.
Komitmen, janji, kerinduan, lupakan! Aku sedang senang dengan duniaku saat ini!
Apakah ini yang sedang kita rasakan?
🎶 Saat ku renungkan hidup bersamaMu,
Seringkali ku melupakanMu.
Ku berjalan sendiri seakan ku mampu lalui tanpa kekuatanMu.
Semakin berat beban hidupku,
Semakin ku menjauh darimu 🎶
Adakah lagu ini sedang menggambarkan situasi kita? Situasi kita yang seringkali menolak cinta Allah sehingga melupakan Allah, memilih untuk berjalan dengan kekuatan sendiri dan semakin menjauhkan diri dari Dia?
Meskipun seperti itu keadaan kita sekarang, lanjutan dari lagu tersebut sangat menggambarkan siapa Allah yang adalah Cinta itu sendiri:
🎶 Namun ada cinta yang tak pernah berlalu, cinta yang ku dapat dariMu.
T'lah teruji lalui rentangan sang waktu, Kau mati bagiku, berkorban untuk diriku 🎶
Allah tetaplah Pribadi yang mencintai kita sehingga dalam cintaNya Ia memanggil kita untuk berbalik agar kembali menikmati cintaNya Allah dan kembali punya cinta mula-mula itu.
Pandang pada salibNya, salibNya memanggil kita kembali.
Memanggil kita kembali menenggelamkan cinta kita pada cintaNya.
Memanggil kita kembali menikmati relasi denganNya.
Memanggil kita kembali menikmati karyaNya.
Memanggil kita kembali menikmati pimpinanNya.
Memanggil kita kembali untuk mengandalkan Dia.
Persoalannya, adakah kita mendengarkan salib Yesus yang memanggil itu? Adakah hal yang menghalangi salib itu dalam hatimu saat ini?
🎶 Bila kau pernah cinta Yesus, m'ngapa tak cinta Dia s'karang?
Meski kau t'lah menjauhkan Dia, kasih-Nya tak b'rubah.
O, dengarlah panggilan-Nya, harap kau lekas pulang,
bila kau pernah cinta Yesus, haruslah lebih cinta. 🎶
- KPPK 340
Putra Arliandy
29 Januari 2017
Komentar
Posting Komentar