Dapatkah uang menukar Harta itu sendiri?

Matius 26:15 (TB)  
Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.

“Aku mengasihimu dengan setia," seringkali janji tersebut yang diucapkan seseorang terhadap orang yang dikasihinya. Namun, kisah Yudas pada perikop ini semakin memberi bukti bahwa tidak ada seorangpun yang dapat benar-benar menjamin kesetiaannya bagi sesama bahkan bagi Tuhan.

Siapa sangka seseorang yang terdekat dengan Yesus, bahkan seseorang yang Yesus percaya (mengingat Yudas merupakan bendahara kelompok para murid), malah menjadi seseorang yang mengkhianati Yesus dengan menjual-Nya? Dengan tiga puluh perak, ia menyerahkan Yesus yang selama ini pelayanan-Nya ia ikuti serta yang selama ini ia anggap sebagai seorang Guru. Uang, lebih menarik perhatian Yudas daripada setia kepada Yesus.

Yudas lalai menjalani panggilannya sebagai murid. Ia melupakan hal yang paling berharga di dalam hidupnya, yaitu Yesus dan memilih hal yang fana, yang hanya memenuhi kepuasannya secara sementara. Yudas sibuk mengumpulkan “harta duniawi” ketimbang memelihara “harta surgawi” yang begitu bernilai.
Yudas menjual Yesus dengan uang, tetapi bukankah “uang” yang Yudas terima itu di masa sekarang sudah berubah dengan hal-hal yang lebih menarik perhatian kita?

Studi, kekasih, jabatan, kekuasaan, harta dan zona nyaman kita seringkali itu yang dapat menggantikan posisi Yesus dalam hidup kita saat ini. Kita seringkali tergoda untuk “menjual Yesus” dan menggantikan-Nya dengan hal-hal tersebut. Kita bisa lihat realitanya, di zaman sekarang, banyak orang meninggalkan imannya pada Yesus demi kekasihnya. Seolah-olah berkata “tidak, aku pasti lebih memilih Yesus”, tetapi beberapa tahun kemudian cinta yang buta itu kepada kekasihnya membutakan juga cinta Yesus yang jauh lebih besar bagi dirinya padahal cinta-Nya jauh lebih nyata ketika Dia mau berkorban ganti dosa kita di atas kayu salib. Begitu juga dengan hal-hal lainnya selain kekasih. Berbagai hal kita kira dapat mengisi kepuasan hidup kita namun ternyata tidak sama sekali!

Kepuasan yang kita dapat sebatas kepuasan fana karena kita memperolehnya dari hal-hal yang fana, bukan yang kekal. Namun ironisnya, itulah yang kelemahan sebagai manusia berdosa. Kita seringkali lebih mengejar apa yang fana ketimbang memelihara apa yang kekal dan sangat berarti bagi kehidupan kita.

Sebagian dari kita yang kembali mendengar sapaan firman ini mungkin berkata dalam hati “ah aku belum sampai menjual Yesus kok” tetapi bukankah seringkali tanpa menjual Yesus dalam hal iman kita seringkali lebih memilih untuk berlomba mencapai harta-harta fana tersebut dan menggeser Yesus dari posisi yang utama dan pertama?

Sehingga firman ini kembali membawa pertanyaan bagi hidup beriman kita, apakah kita seringkali juga mengejar hal-hal yang fana tersebut sehingga dengan sadar atau tidak menjual Yesus yang jauh lebih berharga dalam kehidupan kita? Bukankah kita seringkali menukar “harta surgawi” itu kepada “harta duniawi” yang kita nikmati dalam kedagingan kita? Mari tengok kembali cinta-Nya bagi kita.

Apalah arti memiliki segalanya jika Yesus yang adalah sumber segalanya itu tidak kita miliki?

- Putra Arliandy
20 April 2016
(ditulis sebagai bahan renungan prapaskah Rohkris 3 Depok)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunitas = Anugerah Allah yang sering tak disadari

Penjara Bukan Penghalang

Tempatkan Tuhan Dimana Saja