G.A.L.A.U (God Always Listening and Always Understanding)
GALAU... Kata yang satu ini udah gak asing lah ya di telinga anak zaman sekarang.
Ibarat kata, galau tuh udah jadi bagian hidup anak muda deh. Kalau gak galau, ya namanya bukan anak muda.
Mulai dari yang namanya ngegalauin nilai ulangan yang jelek sampe sampe galauin si doi yang gak kasih kepastian hmmm.
Rasanya nih hati kalau yang namanya udah kena virus galau, kayak nano nano, campur aduk sana sini hehehe.
Yang namanya anak muda galau, pasti gak mau deh tuh cuma dipendam sendiri. Karena kalau dipendam sendiri, sakitnya tambah berasa.
Alhasil kalau anak muda lagi galau, pasti cari cari temen curhat.
Kalian juga pasti iya kan?
Mulai dari kalau galau langsung wa atau bbm teman, bela-belain beli paket teleponan biar bisa nyerocos sampe ketiduran, dan masih banyak lagi deh hal-hal yang dilakuin anak muda kalau galau sedang menguasai hati.
Hm cari teman buat ngeluapin semua kegalauan sih gak masalah tapi yang jadi masalah, sebelum teman yang kita cari, sudahkah kita cari Tuhan dan cerita sama Dia?
Bukannya malah kadang kita mikir "yah berdoa doang gak ngaruh", "yah cerita sama teman lebih plong rasanya, bisa ngomongin ini ngomongin itu", bukannya begitu teman-teman??
Kadang kegelapan hati membuat mata iman kita tertutup. Kita cenderung tidak melihat pada keberadaan Allah yang setia dan malah lebih memekakan mata duniawi untuk mencari kepuasan kepuasan lainnya sebagai pelampiasan kegalauan kita.
Tuhan terasa jauh, Tuhan terasa tutup telinga dengan apa yang mau kita ceritakan, tapi coba kembali renungkan, Tuhankah yang tutup telinga ataukah kita yang tutup pintu hati untukNya?
Buku "not a fan" dengan lantang menegaskan ketika kita masih mencari teman menjadi pribadi pertama yang harus ada saat kita di dalam masalah, sesungguhnya kita belum menjadi pengikut Kristus yang sejati. Kita masih menfokuskan diri kepada teman sebagai sumber penyelasaian masalah tanpa sadar ada sosok Pribadi yang setia, yang tak perlu repot repot kita cari.
Mari sadari, Allah yang kita yakini bukanlah Allah yang jauh, yang sulit digapai, yang sulit punya waktu untuk kita berbicara denganNya.
Allah yang kita sembah adalah Allah yang dekat, hanya sedekat doa.
Ia selalu mendengar bahkan Ia mengerti ketika kita punya kesediaan hati untuk datang ke hadapanNya saat pergumulan hidup menerpa.
Tinggal kembali ke kita, apakah kita punya hati yang mau tersungkur di pelataranNya ketika kegalauan, kecemasan, kekuatiran, ketakutan bahkan kekecewaan terjadi dalam kehidupan kita?
🎶 Ada satu Sobatku yang setia. Tak pernah Ia tinggalkan diriku.
Di waktu aku susah, waktu 'ku sendirian, Ia s'lalu menemani hidupku 🎶
Written by Putra Arliandy
22 September 2015
Ibarat kata, galau tuh udah jadi bagian hidup anak muda deh. Kalau gak galau, ya namanya bukan anak muda.
Mulai dari yang namanya ngegalauin nilai ulangan yang jelek sampe sampe galauin si doi yang gak kasih kepastian hmmm.
Rasanya nih hati kalau yang namanya udah kena virus galau, kayak nano nano, campur aduk sana sini hehehe.
Yang namanya anak muda galau, pasti gak mau deh tuh cuma dipendam sendiri. Karena kalau dipendam sendiri, sakitnya tambah berasa.
Alhasil kalau anak muda lagi galau, pasti cari cari temen curhat.
Kalian juga pasti iya kan?
Mulai dari kalau galau langsung wa atau bbm teman, bela-belain beli paket teleponan biar bisa nyerocos sampe ketiduran, dan masih banyak lagi deh hal-hal yang dilakuin anak muda kalau galau sedang menguasai hati.
Hm cari teman buat ngeluapin semua kegalauan sih gak masalah tapi yang jadi masalah, sebelum teman yang kita cari, sudahkah kita cari Tuhan dan cerita sama Dia?
Bukannya malah kadang kita mikir "yah berdoa doang gak ngaruh", "yah cerita sama teman lebih plong rasanya, bisa ngomongin ini ngomongin itu", bukannya begitu teman-teman??
Kadang kegelapan hati membuat mata iman kita tertutup. Kita cenderung tidak melihat pada keberadaan Allah yang setia dan malah lebih memekakan mata duniawi untuk mencari kepuasan kepuasan lainnya sebagai pelampiasan kegalauan kita.
Tuhan terasa jauh, Tuhan terasa tutup telinga dengan apa yang mau kita ceritakan, tapi coba kembali renungkan, Tuhankah yang tutup telinga ataukah kita yang tutup pintu hati untukNya?
Buku "not a fan" dengan lantang menegaskan ketika kita masih mencari teman menjadi pribadi pertama yang harus ada saat kita di dalam masalah, sesungguhnya kita belum menjadi pengikut Kristus yang sejati. Kita masih menfokuskan diri kepada teman sebagai sumber penyelasaian masalah tanpa sadar ada sosok Pribadi yang setia, yang tak perlu repot repot kita cari.
Mari sadari, Allah yang kita yakini bukanlah Allah yang jauh, yang sulit digapai, yang sulit punya waktu untuk kita berbicara denganNya.
Allah yang kita sembah adalah Allah yang dekat, hanya sedekat doa.
Ia selalu mendengar bahkan Ia mengerti ketika kita punya kesediaan hati untuk datang ke hadapanNya saat pergumulan hidup menerpa.
Tinggal kembali ke kita, apakah kita punya hati yang mau tersungkur di pelataranNya ketika kegalauan, kecemasan, kekuatiran, ketakutan bahkan kekecewaan terjadi dalam kehidupan kita?
🎶 Ada satu Sobatku yang setia. Tak pernah Ia tinggalkan diriku.
Di waktu aku susah, waktu 'ku sendirian, Ia s'lalu menemani hidupku 🎶
Written by Putra Arliandy
22 September 2015
Nice article Li, keep on writing & inspiring others yaa...
BalasHapusbagus ka artikelnya.. semoga terus berlanjut ya...
BalasHapus